07 April 2008

Selalu Puas Atas Pemberian Allah SWT

Oleh : Habib Alwi Assagaf

Sayidina Ali bin Abi Thalib k.w. yang merupakan pintu gerbang kota ilmu Rasulullah saw. berkata, "Sesungguhnya aku telah membaca kitab Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Furqan. Kemudian kuambil satu kalimat sebagai intisari dari keempat Kitab Samawi tersebut. Aku ambil kalimat inti dari Taurat, `Barangsiapa yang puas atas pemberian Allah (Qana`ah), maka dia akan selalu kenyang`. Aku ambil kalimat inti dari Zabur, `Barangsiapa yang mampu meninggalkan keinginan-keinginan muluknya, maka ia akan selamat dari malapetaka`. Aku ambil kalimat inti dari Injil, `Barangsiapa yang taat, maka dia akan sukses`. Dan aku ambil kalimat inti dari Al-Furqan, `Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan selalu mencukupinya`." (Q.S. Ath-Thalaq: 3)

Qana`ah yaitu merasa puas dan menerima dengan senang hati apa pun yang diberikan Allah SWT kepada kita. Apakah bentuk pemberian tersebut sesuai dengan keinginan kita ataupun tidak, dengan satu keyakinan bahwa kenyataan itulah yang terbaik dan paling maslahat bagi kita, sebab hanya Allah SWT yang Mahatahu, Mahabijak, dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.

Siapa yang beriman kepada Allah SWT tentu ia akan mematuhi semua perintah-Nya dan melaksanakan apa-apa yang dikehendaki-Nya, lalu menyerahkan urusan dirinya secara total kepadan-Nya serta tidak sembrono dalam beribadah kepada-Nya. Doa adalah roh ibadah yang merupakan kewajiban mutlak bagi setiap hamba selama ia merasa dan menyadari kefakiran dirinya serta masih punya kebutuhan terhadap Allah.

Seorang mukmin sejati akan senantiasa berdoa dan menyampaikan hajat-hajatnya kepada Allah SWT, kemudian ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang ia harapkan. Sebab, hakikat doa adalah usaha itu sendiri. Demikian juga bahwa pemberian Allah SWT tidak turun begitu saja kepada manusia kecuali harus ada sebab-musababnya dan melalui suatu proses hukum alam (sunatullah) yang Dia berlakukan di jagad raya ini.

Oleh karena itu, doa dan usaha tidak bisa dipisahkan karena merupakan bagian dari sebab-musabab atau mekanisme untuk melewati dan menerobos hukum alam itu sehingga akhirnya antara doa, usaha, dan perkenaan (ijabah) Allah SWT bertemu di satu titik, saat itulah apa yang diinginkan si hamba akan diturunkan. Namun, perlu diingat juga bahwa doa dan usaha ini harus disertai tawakal yaitu penyerahan diri dan semua urusan kepada Allah SWT dengan satu keyakinan bahwa Dialah pemilik kekuasaan tertinggi di atas hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Mengatur segala urusan.

Tawakal bukanlah suatu pilihan terakhir yang dipaksakan atau solusi kepepet atas usaha-usaha kita yang gagal, juga bukanlah satu sikap semu untuk menghibur batin kita yang sebenarnya sedang kecewa. Tawakal juga bukan berarti berdiam diri menyerah pada kenyataan dan tidak mau merubah keadaan, tetapi tawakal adalah sebentuk kesadaran yang lahir dari keyakinan puncak seorang hamba kepada Tuhannya. Bahwasannya manusia hanya bisa berkehendak, berdoa, dan berusaha, namun hasil adalah mutlak di tangan Allah SWT.

Tawakal seperti sebuah pipa atau selang, sedangkan doa dan usaha adalah air yang mengalir di dalamnya. Supaya aliran air berjalan lancar tanpa gangguan maka pipanya pun harus selalu dalam keadaan bagus dan normal. Tatkala kita memulai doa dan usaha, saat itu juga tawakal harus senantiasa menyertai keduanya. Setiap doa dan usaha yang tidak dibarengi dengan tawakal, akan berujung pada kekecewaan dan keputusasaan.

Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa yang menggantungkan dirinya terhadap akal dan kecerdasannya maka dia akan tersesat. Barangsiapa yang mengantungkan dirinya terhadap harta dan kekayaannya maka ia akan selalu miskin. Barangsiapa yang menggantungkan dirinya terhadap reputasi dan jabatannya maka ia akan terhina. Tetapi barangsiapa yang menggantungkan dirinya kepada Allah maka ia tidak akan pernah tersesat, miskin, ataupun hina".

Setelah doa dan usaha yang disertai tawakal itu dilakukan, apa pun bentuk hasilnya, sesuai harapankah atau tidak, kita harus menerimanya dengan puas dan senang hati. Inilah esensi Qana`ah. Orang yang merasa puas dengan apa yang diberikan, ia akan dibebaskan dari kesedihan dan keletihan.

Rasulullah saw. mengajarkan kepada Imam Ali as., "Wahai Ali, jika engkau bisa qana`ah, maka engkau dengan para raja dan penguasa di dunia ini akan berada dalam satu level. Wahai Ali, sesungguhnya qana`ah adalah kekayaan yang tidak pernah habis dan kerajaan yang takkan pernah musnah. Wahai Ali, jika engkau menginginkan kemuliaan dunia dan akhirat maka putuskanlah semua keinginanmu terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia. Sesungguhnya derajat-derajat tertinggi yang telah dicapai para nabi dan rasul adalah karena mereka telah memutuskan harapannya terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia".

Memang sangat sulit menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, namun kita harus belajar dan mencoba menghendaki realitas tersebut dengan qana`ah. Sebab, dengan jalan inilah kita akan senantiasa mendapat ketentraman dan kepuasan batin, dan mampu bersyukur dalam segala keadaan. Sebaliknya, ketika qana`ah seseorang menurun, hawa nafsunya yang akan meningkat. Dari sinilah muncul berbagai macam penyakit jiwa, depresi, frustasi, stres, dsb. yang diakibatkan oleh hasrat-hasrat duniawi dan dorongan hawa nafsu serakah yang tidak terpuaskan.

Allah SWT berfirman kepada Nabi Daud as., "Wahai Daud, engkau punya keinginan dan Aku pun punya keinginan. Jika engkau puas dan rela menerima keinginan-Ku, maka Aku akan berikan semua keinginanmu, tetapi jika engkau tidak rela menerima keinginan-Ku, maka Aku akan persulit semua keinginanmu. Dan setelah itu, tidak akan ada yang terjadi melainkan atas keinginan-Ku".

Cucu Nabi saw., al-Husain r.a. berkata, "Seandainya yang engkau inginkan tidak ada, maka inginilah (nikmatilah) yang ada". Qana`ah ibarat kapal keridaan Ilahi, mengangkut siapa pun yang ada di atasnya menuju istana kerajaan Tuhan. Milikilah keyakinan pada apa yang belum kita dapatkan dan rasa puas pada apa yang telah didapatkan.

Apabila orang yang beriman dan puas hatinya bersumpah bahwa pada akhirnya ia akan memperoleh kedua dunianya, Allah SWT akan membenarkannya dalam hal itu, dengan mewujudkan harapannya melalui kebesaran hati, keyakinan, dan kepuasan batinnya. Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. An-Nahl: 97)

Imam Ali menjelaskan bahwa yang dimaksud Hayaatan Thayyibah dalam ayat ini adalah suatu kehidupan yang baik, manis, dan indah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang qana`ah. Dia juga menambahkan, "Sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan selalu berkeliling dan berpindah-pindah dari satu orang kepada yang lainnya, keduanya tidak pernah berkumpul pada satu orang, kecuali dalam diri orang yang qana`ah".

Bagi orang yang qana`ah, kaya atau miskin, dalam kondisi senang maupun susah, ketika urusannya lancar ataupun macet, ia tetap bisa menikmati hidup dengan kepuasan hati dan ketentraman batinnya. Sedangkan di akhirat kelak, surga telah menantinya.

Penulis, Ketua Majelis Habib, Jln. Kembar VI No. 8 Bandung.

Tidak ada komentar: